Berdamai melalui Duka dan Kisah Orang lain
Berdamai melalui Duka dan Kisah Orang lain
Hari itu aku ulang tahun, bertepatan dengan kejadian yang bikin aku trauma dan nggak mau lagi bersahabat dengan tetangga super rese. Hari di mana aku berkali-kali mengutuk kenapa ada tetangga yang tak suka dan tak pengertian karena kami memelihara kucing.
Hari di mana aku berpikir bahwa lebih baik kami pindah saja ke tempat lain. Jauh dari orang yang tak menyukaiku dan aktivitasku.
Hari itu kucingku yang baru saja melahirkan dipaksa dibuang dari rumah. Dipisahkan dari anaknya. Padahal dia baru saja melahirkan, anaknya masih sangat kecil untuk bisa hidup layak tanpa ibunya.
Orang bilang bahwa kesedihan bisa membuat hati menjadi mati rasa. Ya… Itu betul. Sejak saat itu aku nggak mau pelihara kucing lainnya selain yang tersisa di rumah. Sempat mengganti fokusku pada tanaman hingga akhirnya sebulan setelahnya rumah kami kedatangan kucing kecil yang kakinya pincang. Kucing itu dibuang ke pot sampai si anak kucingnya mengeong di pagi buta.
Adikku bilang, mba mau pelihara kucing lagi? Aku sebenernya nggak mau kalau harus pelihara lagi tapi iba juga. Karena nggak mungkin membiarkan kucing itu kelaparan di luar dan mati begitu saja, kan?
3 tahun setelahnya, anak dari kucing itu yang kuberi nama Ucil melahirkan kucing kecil. Baru beberapa pekan, belum ada 1 bulan. Anak yang tersisa hanya tinggal 1. Itu pun tiba-tiba mati, tertidur di keset selepas isya jam 9 an aku baru tahu. Karena selesai magrib aku udah nggak keluar rumah lagi.
Yang bikin aku tertegun saat melihat kucing kecil yang mati itu adalah… rasa kehilangan itu berubah jadi rasa skeptis. Hatiku mendadak mati rasa. Aku berusaha percaya kalau kesedihan bisa berubah seiring waktu. Tapi di satu sisi aku menyangkal bahwa aku sedang sedih saat itu. Mendadak denial atas kejadian yang membuat hatiku terasa mati rasa.
Aku pun masuk kamar dan bilang, “I’m ok, aku baik-baik saja. Toh selama ini juga aku sering kehilangan kucing. Lalu, kenapa lagi kalau kali ini kehilangan juga?”
Tapi ternyata kehilangan tetap saja kehilangan. Aku nangis dan langsung lari ke kamar mandi. Nggak mau kalau orang lain lihat, meskipun itu keluarga sendiri. Bapak yang memakamkan kucingnya di halaman depan pun sudah selesai. Dan aku sudah berhenti menangis dan keluar dari kamar mandi.
Aku masuk kamar dan berpikir, apa yang terjadi denganku? Kenapa sekarang aku sulit untuk menangis, untuk sebuah kesedihan yang seharusnya sifatnya alamiah. Kenapa sekarang aku berpikir bahwa kesedihan itu nggak perlu dirasakan? Padahal kesedihan adalah kesedihan. Manusiawi jika seseorang mengalaminya. Tapi kejadian 3 tahun lalu membuat aku trauma. Aku tak tahu bahwa responku akan sekeras itu pada orang lain yang membuatku kecewa.
***
Menonton Film Sedih Mengasah Empati
Tahun 2019, selepas aku keluar dari bioskop usai nonton film Avenger Endgame, aku bilang sama mbak sampingku, mb Reni. Kukatakan bahwa aku mau makan siang bareng dia kalau dia mau. Aku tahu kami baru kenal. Tapi nggak tahu kenapa ada perasaan bahwa orang ini baik.
Selepas makan siang, aku nanya tentang dialog di film Avenger Endgame itu, dan satu hal yang bikin aku ngerasa related adalah saat Thor merasakan trauma yang mendalam tentang kejadian saat ia menjadi martir saat penyerangan ke Thanos.
“Mbak, kenapa Thor ngerasa shock waktu dia selesai membunuh Thanos dan udah gitu aja?”
Aku tahu perubahan karakter Thor sangat drastis. Setelah 5 tahun pun dia masih belum berdamai dengan diri sendiri selepas kejadian pembunuhan Thanos itu.
Mbak Reni bilang,
“Thor shock gitu karena dia ngerasa. Udah, gitu aja? Masa Thanos langsung mati aja. Padahal luka batin dan kesedihan yang dialami oleh Thor akibat kehilangan seluruh rakyatnya, kerajaan dan keluarganya itu sangat besar. Dilenyapkan begitu saja tanpa bekas. Kenapa langsung mati, udah gitu aja? Padahal dia mengalami kesedihan mendalam karena kehilangan orang-orang yang disayangi dan itu berat baginya karena hanya dia yang tersisa dari Asgardian.”
Aku tertegun lama. Dan baru memahami kenapa Thor sesedih itu. Bahkan waktu dia ketemu ibunya, si Thor nangis dan bilang, “Hei Mom, apa kau mengenalku? Aku mau mengubah masa depanmu.”
Ibunya malah bilang, “Aku tahu kamu dari masa depan. Lakukan hal yang membuatmu bisa mengubah jalan takdirmu, tapi bukan masa depanku.”
Di situ aku baru nyadar kenapa Thor shock dan setraumatis itu. Dia hanya belum bisa meyakini kenapa ada hal-hal yang terjadi di luar kuasanya dan kenapa ia harus merasakan kesedihan tapi tak bisa menangis karena nggak mungkin laki-laki mengungkapkan kesedihan. Meskipun itu sangat berat baginya. Dia nggak mungkin cerita sama teman-teman lainnya seberapa sedihnya dia kehilangan seluruh rakyat kerajaannya, tempat tinggalnya, keluarganya, bahkan ibu tercintanya.
Di situlah aku baru sadar bahwa kesedihan sekecil apapun itu, terimalah. Rasakanlah. Secara alamiah terimalah sebagai bagian dari hidup. Semakin keras kita menganggap bahwa hidup baik-baik saja, tidak sedih meskipun perasaan kehilangan dan kekecewaan yang mendalam. Semakin lama proses acceptance itu berjalan.
Dalam kasus Thor dia sampai harus mengalami 5 tahun hidup dengan merasakan kesedihan seorang diri. Menenggelamkan dalam minuman beralkohol hanya demi bisa membuat dirinya merasa baik-baik saja.
Kesedihan nggak akan pernah hilang selama fase menerima itu belum sampai. Jadi, terimalah, rasakanlah bahwa kamu memang sedang sedih. Jangan disangkal. Justru jika disangkal akan semakin berat menerima kenyataan dan proses move on-nya makin lama.
Sedih boleh, kecewa boleh. Terima hal itu sebagai bagian dari takdir. Karena nggak semua hal bisa membuat kita bahagia, kadang kesedihan pun perlu untuk dialami karena hidup memang demikian adanya.
Bahwa bersama kesulitan ada kemudahan. Bersama kesedihan akan ada kebahagiaan yang datang. Cepat atau lambat. Maka terimalah sebagai bagian dari proses mendewasakan diri, meskipun itu sulit sekalipun.
Ya, aku tahu itu berat, karena hanya orang-orang yang pernah kehilangan yang tahu bagaimana rasanya sulit mengikhlaskan sesuatu yang hilang.
Jadi cukuplah berempati jika ada kejadian yang sama dialami oleh orang-orang sekelilingmu. Bukan menghakimi, bukan mempertanyakan, karena kadar kesedihan orang beda-beda. Yang dibutuhkan hanyalah support orang tersebut dengan cara yang baik tanpa perlu mempertanyakan sebuah alasan.
***
“Empati berawal dari kesadaran bahwa saya tidak paham, dan saya ingin mendengar untuk memahami orang ini. Kesalahpahaman berawal dari ketidaksadaran dan kita berpikir bahwa saya paham, bahkan mungkin lebih paham daripada dia memahami dirinya sendiri. ~Dr. Jiemi Ardian”
Beberapa pekan lalu aku sering mendengar lelayu atau berita kematian dari toa menara masjid dekat rumah. Kematian orang yang bahkan tidak kusangka karena mendadak, bahkan ada juga yang sudah lama sakit parah. Sungguh sebuah berita yang membuatku terhenyak. Bahwa hidup kita seringkali diiringi dengan kelahiran maupun kematian di sekeliling kita.
Ngomongin soal berita kematian, aku pernah ada di posisi sebagai kerabat dari orang yang meninggal. Aku nggak tahu gimana perasaanku saat itu, karena air mataku hanya menetes sedikit.
Kupikir, kesedihan itu hanya datang saat berita kematian itu singgah, tapi ternyata meski sudah lama berlalu, kadang ingatan tentang orang yang sudah tiada malah bikin aku merenung dalam diam. Ya... Tiba-tiba mendadak jadi mellow, lalu menangis.
Aku pernah merasakan hal itu, waktu aku berjalan ke pasar untuk belanja. Tiba-tiba aku ingat kisah hidup pakdhe yang sudah meninggal karena sakit menua dan sempat hilang ingatan juga.
Reaksi badanku sungguh aneh karena mendadak aku menangis. Padahal aku sedang berjalan ke arah pasar, lalu air mata itu turun begitu saja. Maskerku basah oleh air mata, tanpa bisa kucegah.
***
Kisah Simbah Penjual Makanan
Tadi pagi, tiba-tiba ingatanku melayang pada sosok simbah tua yang menjual makanan di rumahnya. Beliau dulu menjual dendeng dan sambal goreng tempe kering.
Rumahnya di tepi sungai di Jalan Serayu dan dekat pula dengan rumah teman SMP ku.
Wajahnya yang menua diterpa zaman itu masih kuingat dengan jelas. Bahkan, aroma masakannya pun aku hafal karena belum ada yang bisa menyamai citarasa masakannya.
Tadi pagi, aku jadi bertanya-tanya dalam hati, "Kenapa tiba-tiba aku ingat dia?" Bahkan aroma masakan dan cita rasanya yang menggugah selera. Sungguh aneh, kan?
Aku sampai bertanya pada Mama untuk memastikan ingatanku memang benar.
Simbah tua itu memang sudah lama meninggal. Jadi, waktu dulu aku lihat warungnya terkunci, itu berarti memang sudah tidak ada yang jualan lagi di rumah itu.
Awalnya kupikir simbah itu punya generasi penerus penjual masakan dari keluarganya. Tapi mengingat cara masaknya yang unik, sepertinya sulit untuk menyamai rasa masakannya.
***
Mengasah Empati dalam Diri
Oiya, perihal berita kematian, aku jadi ingat tentang rasa empati .
Empati itu bisa tumbuh dari latihan dan kebiasaan dalam rumah. Tapi memang tidak mudah.
Saat kita sedih, kecewa, marah, gelisah, galau, dsb sebenarnya kita sudah memiliki berbagai rasa dan emosi yang masuk dalam jiwa. Nah, tinggal mengolah rasa ini yang agak sulit.
Validasi emosi itu nggak serta merta bisa dilakukan saat kita sedih, kecewa atau marah.
Butuh waktu untuk validasi emosi itu. Dan seringkali malah sudah terlambat banget baru sadar, "Oh ternyata aku sedih ya."
Ya, sama kayak yang aku bilang sebelumnya. Waktu pemakaman pakdhe di Slawi, aku nggak begitu sedih karena kupikir ya sudah waktunya meninggal. Sudah lama sakitnya juga.
Tapi begitu aku ingat lagi, rasanya kayak ada perasaan sesak yang tertahan. Yang selama ini tidak kuungkapkan. Dan tidak kuyakini sebagai bagian dari emosi diri.
Yang menjadikan empati mahal karena seringkali aku sendiri juga masih merasa denial saat mendengar berita sedih, bukan hanya berita kematian tapi juga kesedihan lainnya.
Empati pada orang yang menerima berita lelayu itu kadang bikin aku khawatir.
"Apa aku bisa bersikap simpati sebagaimana seharusnya mereka mendapatkan dukungan di masa-masa sulit?"
Nyatanya menyarankan perihal sabar saja tidak cukup bagi orang yang berduka.
Mereka pasti butuh dipeluk dan ditenangkan. Diberi kekuatan dan keyakinan bahwa semua akan baik-baik saja. Ya... Meskipun tidak sepenuhnya benar kan? Tidak ada yang baik-baik saja setelah dapat berita duka.
Jadi kadang aku bingung bagaimana harus bersikap.
Menenangkan? Memberi makan? Memberi bantuan? Atau bagaimana?
Aku jadi ingat pernah nanya ke teman, "Si A apa baik-baik saja ya? Aku mau kasih tiket blablabla."
Kupikir reaksiku saat itu malah aneh. Nggak mungkin ada orang sedang berduka, meskipun selang waktu berdukanya sudah 1 bulan lebih. Tapi malah mau diajakin menikmati hidup dengan menonton film.
Aku baru sadar kalau itu salah. Tapi juga bingung bagaimana menghadapi orang yang sedang sedih.
Perihal perasaan sedih ini bukan hanya soal kematian, tapi seperti berita lainnya juga, misal : terpaksa resign atau kena PHK karena covid, kena badai keuangan saat pandemi, ditinggal nikah, atau hal yang bikin galau dan overthinking lainnya.
Validasi Emosi itu Perlu Agar Kau Tahu Perasaan Terdalammu
Kadang bingung bagaimana harus menempatkan diri. Di satu sisi, aku tahu setiap emosi butuh validasi. Setiap emosi juga butuh untuk reda hingga waktunya tiba.
Tapi kadang, ada pikiran seperti,
"Tolong jangan lama-lama sedihnya. Aku jadi bingung gimana harus memberi saran agar kamu bisa move on atau bangkit dari keterpurukan."
Karena aku pernah lihat teman yang kehilangan orang tuanya, bahkan sampai 10 tahun lebih masih merasa berduka yang dalam.
Bukan berarti nggak boleh sedih ya. Hanya saja... aku jadi khawatir keadaannya. Gimana kalau dia malah jadi depresi dan bersikap aneh, atau hal lainnya?
Aku paham bahwa kesedihan perlu diterima, tapi juga nggak perlu lama-lama.
Beri Waktu pada Dirimu untuk Pulih
Beri waktu untuk kesedihan itu menemukan muaranya.
Beri waktu untuk duduk dan diam. Lalu pelan-pelan mulai memetakan perasaan apa yang sedang dirasakan. Jadi benar-benar bisa merasakan emosi yang dialami jiwa kita.
Bukannya denial dan malah menyangkalnya terus. Karena kadang ada masanya kita justru harus menjalani hidup. Bagaimanapun perasaan kita saat itu.
Ya, semangatlah wahai jiwa. Kamu sungguh berhak bahagia. ❤️
Komentar
Posting Komentar
Silahkan berkomentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. Salam kenal. ^_^